Jumat, 07 Mei 2010

Kepedulian





Saudara2 TerKasih,

dalam kehidupan ini banyak hal yang terjadi tidak sesuai seperti angan kita sebagai manusia; akan tetapi apapun yang terjadi pastinya TUHAN punya rencana besar atas kehidupan kita masing2 sehingga kita masih diberi kesempatan hidup karena kita berharga di hadapanNYA.

Seperti anak Desak Made Jesiari ini yang ceria bersenandung.
saya percaya anak ini punya potensi yang luar biasa. hasil operasi yang ditangani oleh Prof Sri Malyawan (di RS Sanglah- Denpasar) 2 Jan 2008 sangat bagus. akan tetapi kurangnya penjelasan paska operasi membuat orang tua tidak melakukan treatmen yang seharusnya ditambah keterbatasan finansial keluarga. apa boleh dikata semua sudah berlalu. kami minta bimbingan ke RS Sanglah dengan menyertakan CT Scan dan mendapatkan tanggapan sangat baik. kami diundang untuk konsultasi Prof Sri Malyawan dengan didampingi Dr Ida Ayu Yuli, hasilnya dinyatakan tidak perlu operasi ulang, dirujuk ke Tumbuh kembang setelah pemeriksaan dan akhirnya kami di rujuk ke IRM untuk fisioterapi.

dengan treatmen yang sekarang dijalankan; angan/ cita2 yg paling dekat saya pribadi 6 bulan anak Jesiari bisa duduk. Amin
saya percaya di saat kita memohon, dan percaya dengan Iman akan terjadi; hal ini bisa tercapai dengan komunikasi dan bimbingan Direktur Utama RS Sanglah dan Team melalui Dr Ida Ayu Yuli pastinya sebagai Custemer Service.

Kami yang masih berjuang meng-upayakan anak Jesiari menapaki hidup yang lebih baik sangat membutuhkan dukungan dari semua pihak Targetnya tidak hanya sampai bisa duduk pastinya sampai dengan anak bisa mandiri.

Syukur pada Allah setelah 2 minggu anak D Jesi mendapatkan terapi, ditambah asupan nutrisi yang mulai membaik, karena mulai belajar minum susu kembali dari hanya sanggup 50cc kurang sekarang habis 100cc dan multivitamin dari tumbuh kembang. urat dikepala sudah tidak biru, pipi mulai ada yang menakjubkan adalah bisa tengkureb dan balik terlentang sendiri.

Terima kasih Tuhan, Anak Jesi telah memberi kami banyak pelajaran,
1. Emphaty
2. Komunikasi, dalam arti bisa mendengar dan berani mengutarakan
3. Selalu ceria (anak Jesi yang selalu bersenandung)
4. Usaha dan menjalani dengan hati yang gembira

selanjutnya akan saya up date saat ada perkembangan dan pelajaran yang baru


Salam Kasih

Louisa Sidodana Tjhie

Minggu, 02 Mei 2010

Tumbuh Tegar

Di pinggiran hutan tampak sekelompok bunga bermekaran indah sekali, mereka dengan riang memanggil para lebah dan kupu-kupu, “Hai lebah! Disini ada bunga yang harum dan penuh madu!”, sahut salah satu bunga. Bunga yang lainnya juga tidak mau kalah, “Hai kupu kupu, cepatlah kemari! Bungaku penuh madu yang manis dan lezat”. Bunga pertama tetap tidak mau mengalah, “Itu adalah Lebah bukan Kupu kupu!”, dibalas temannya, “Bukan, itu adalah Kupu kupu!”, “Lebah!, Kupu kupu ! Lebah! Kupu kupu!, kedua bunga itu berdebat. Bunga bunga yang lain tertawa melihat mereka. Ha ha ha ha ha ha. Suasananya sangat ceria.

Diam-diam, dibawah sebuah pohon besar, Nampak sekuntum bunga kecil menatap dengan iri. Bunga-bunga lainnya mencoba mengajaknya, “Bunga kecil maukah ikut bermain dengan kami?” Si bunga kecil dengan ketus menjawab, “Saya tidak mau ikut!. Bunga-bunga lainnya heran, “Mengapa?” Bunga kecil berkata, “Matahari bersinar terik, saya takut sinarnya akan membakar tubuhku”. “Janganlah takut, lama kelamaan akan terbiasa, matahari akan membuat kita tumbuh kuat dan semakin besar”, rayu bunga-bunga lainnya. Tetapi si bunga kecil tetap bersikeras, “Untuk apa saya menjadi kuat dan besar, bukakah sudah ada pohon besar yang selalu melindungku?!’

Tak berselang lama, ternyata hujan. Rintik-rintik air hujan membasahi para bunga, “Wah, turun hujan, turun hujan!”, terdengar teriakan bunga-bunga. “Waktu mandi telah tiba lagi!”, sahut bunga A. Mereka dengan riang bersenandung, “La la hu, la la hu, assyiikk sungguh enak dan nyaman!”. Bunga kecil melihat mereka sambil bergerutu, “Kalian semuanya basah kuyup, apanya yang asyik!”. Beberapa saat, sang pelangi pun muncul, “Hai kakak Pelangi apa kabar?” sapa para bunga, “Kakak pelangi cantik sekali, berwarna warni!” puji bunga A.

“Dimana? Di mana kakak Pelangi? “ si bunga kecil karena tertutup pohon besar tidak bisa melihat pelangi, “Ah sudahlah, kakak Pelangi pasti tidak akan lebih cantik dariku”. Tiba-tiba bunga B berteriak, “Sssstttt, pelankan sedikit suaramu, ada manusia datang!” Dari kejauhan terlihat dua sosok manusia mendekati mereka, salah seorang membawa kapak besar sambil menunjuk, “Itu pohonnya, apa yang saya katakan tidak salah bukan?” Temannya melihat, “Iya, betul! Itu pohon yang sangat besar, ayo kita tebang pohon itu”.

Terdengar suara hiruk pikuk. “Celaka, celaka mereka mau menebang pohon besar ini!” Sang bunga kecil berteriak, “Hentikan, hentikan, pohon ini punyaku!” Melihat manusia terus menerus mengayunkan kapak ke tubuh pohon besar, bunga kecil sambil menangis sambil terus berteriak dan gemetar. Bunga A berkata, “Adik bunga, manusia tidak mengerti bahasa kita”.

Akhirnya pohon besar telah di tebang, dibawah rintik-rintik hujan, sang bunga kecil terkurai lemas. Para bunga merasa iba, “Adik bunga, ayo bangkitlah! Jangan engkau merasa tak berdaya”, Bunga kecil hanya bisa merintih, “Tidak bisa, saya sudah tidak berdaya, saya hanya menunggu ajal”. Bunga A berkata “Jangan berkata demikian, kami semua akan menemanimu”. Langit bertambah gelap, “Lihatlah ada segerombolan awan hitam, kita semua bersiap-siap, hujan lebat akan segera turun!”, bbrr, hujan lebat turun disertai petir, tapi para bunga telah siap menghadapinya. Bunga kecil dengan suara lemas berkata “Saya sungguh kagum, hujan dan badai pun kalian tidak takut.” Bunga A menjawab, “Ini hal biasa, tidak akan mempersulit kami”. Suara bunga kecil makin melemah, “Maaf, saya mungkin tidak bisa setegar kalian, saya harus berpamitan dulu”. Bunga kecillll!

Ketika siuman, bunga kecil masih ditemani oleh teman-temannya. Bunga A berkata, “Bunga kecil, saya mendadak teringat pengalaman yang sama sepertimu” “Benarkah?”, suara bunga kecil masih terdengar lirih. “Iya, waktu itu tubuh kita semua kecil dan kurus, juga tidak tahu bagaimana bentuk hujan badai dan petir”. Bunga B melanjutkan, “Sehingga sewaktu hujan dan badai kami sangat menderita, tetapi kami selalu bersama dan saling memberi semangat”. Para bunga pun mengenang masa lalu, “Setiap kali badai berlalu, kami mengibaskan air hujan dan perlahan-lahan meluruskan badan lalu menyapa paman matahari”. Dan Paman matahari berkata, “Bunga bunga yang tegar, kalian tampak semakin tinggi aja, ha ha ha ha ha ha “ “Segala rintangan malah membuat diri kami semakin tumbuh kuat dan sehat. Bunga kecil, kamu juga bisa seperti kami, bukankah pohon besar itu pun selalu menyemangatimu”. Bunga A menyelesaikan ceritanya.

Bunga kecil terdiam, teringat akan ucapan sahabatnya si pohon besar, “Kamu harus berani dan tegar, jangan lupa bahwa pohon yang besar itupun berasal dari pohon kecil”. Pelan-pelan, bunga kecil berusaha bangun kembali, “Baiklah, saya sekarang akan bangkit dan menjadi tegar”.

Pagi yang cerah, para lebah dan kupu kupu sedang bekerja. Para bunga pun berteriak, “Hai lebah! Disini ada Bunga yang harum dan penuh madu!” Bunga yang lainnya juga tidak mau kalah, “Hai kupu kupu, cepatlah kemari! Bungaku penuh madu yang manis dan lezat”. “Itu adalah lebah bukan kupu kupu!” dibalas temannya, “Bukan itu adalah kupu kupu!” Si bunga kecil ikut berteriak. Bunga kecil telah tumbuh besar dan kuat. Lebah! Kupu kupu ! Lebah! Kupu kupu! Ha ha ha….. Mereka semua tertawa bersama dibawah sinar hangat paman matahari.

Segala rintangan dan kesulitan yang adik-adik hadapi, akan mengembleng kalian semakin dewasa, kuat dan tabah. Yang penting jangan cepat menyerah. Ayo! (hui)

Selasa, 20 April 2010

Melepaskan Nama dan Kepentingan

Pada zaman sekarang ini, jika seseorang yang hidup sampai paruh baya masih tidak dapat melepaskan semua keterikatannya, maka dalam sisa hidupnya akan dirundung oleh kesusahan. Beberapa waktu ini ketika saya bertemu dengan teman kelas SD maupun SMP, walaupun umur mereka hanya 40-an, kebanyakan rambut mereka sudah terlihat rontok dan beruban, sulit dipercaya umur mereka hampir sebaya dengan saya.

Ketika ditanya kenapa mereka kelihatan tua, kebanyakan menjawab karena tekanan kehidupan, keadaan ekonomi. Ketika mereka menanyakan saya bagaimana caranya merawat tubuh sehingga kelihatan awet muda?, saya dengan tenang menjawab : “Manusia jika bisa melepaskan diri dari ketenaran, keterikatan akan nafsu keinginan, orang tersebut akan terasa dibebaskan, jika seseorang dapat mengendalikan hatinya tidak terikat kepada keinginan memandang hampa kepada keinginan duniawi maka dapat hidup dengan tenang, kenapa harus dengan susah payah menghabiskan sisa hidup mengejar semua keinginan ini?.” Seperti sajak Sung Dongpo: “saya sering merenung menyadari bahwa tubuh saya bukan milikku, lalu kapan saya dapat melepaskan diri dari nama dan kepentingan pribadi?

Kata-kata tersebut diambil dari salah satu sajak Dongpo yang terkena berjudul Lin Jiang Xian (orang suci di samping sungai)

Sajak itu kalau diterjemahkan kira-kira artinya berikut:

Pada malam hari pulang ke rumah sudah tengah malam
Pelayan di rumah sudah tidur dengan nyenyak dan mendengkur dengan keras,
Mengetuk pintu tidak ada yang menyahut.

Saya berjalan menelusuri sungai Yangtze,
Di malam yang sunyi, suara aliran sungai terdengar jelas.

Saya menyadari bahwa tubuh saya bukan milikku, kapan saya bisa melepaskan diri dari nama dan kepentingan pribadi?


Diselimuti kegelapan malam, perlahan-lahan hembusan angin sungai seperti berhenti
Terlihat sangat tenang dan damai, serasa perahu yang saya naiki terus melaju, mempercayakan hidup saya pada sungai dan laut ini.
Sajak ini ditulis ketika Dongpo berada di Huangzhou sebagai asisten milisi, dia ditugaskan disini selama 5 tahun, dia sangat tertekan selama beberapa tahun itu, tetapi dia tidak pernah putus asa dalam tekanan hidup itu. Dalam sajaknya terlihat, dia terlihat sebagai seorang yang luar biasa, bukan setiap manusia dapat melewati kehidupan yang demikian. Tidak heran dia dinobatkan sebagai pujangga besar, dia bagaikan tersadar dari mimpinya, ia terlepas dari pengejaran akan nama, ketenaran dan keinginan nafsu, memilih kebebasan akan ketenangan jiwa dan raga. Membuat kehidupan yang singkat ini menyatu dengan alam. Setelah terlepas pengejaran hal-hal yang bersifat duniawi, jiwa dan raganya terasa damai dan indah.

Ribuan tahun sudah berlalu sejak Dongpo menulis sajak tersebut, tapi manusia tetap mengejar ketenaran dan keuntungan, tersesat dalam dunia ini, sepanjang hidupnya sibuk mencari keuntungan. Di dunia ini pemilikan akan harta dan benda sangat terbatas, tetapi sebagai manusia pengejaran akan harta dan benda tidak terbatas. Walaupun manusia di dunia ini tahu “tahu rasa bersyukur akan membuat orang berbahagia” tetapi dalam kehidupan nyata ini sebenarnya hanya ada berapa orang yang benar-benar bisa melepaskan ketenaran dan pengejaran akan harta? Seseorang jika ingin hidup dengan bebas dan bahagia, dia harus bisa melepaskan diri dari ketenaran dan pengejaran harta. Didalam kehidupan manusia jika bisa memandang hampa akan ketenaran dan harta tidak hanya bisa memperpanjang umur juga bisa menenangkan pikiran jiwa dan raga, dengan demikian dapat hidup dengan tenang dan damai.-Hui

Minggu, 18 April 2010

Tiga Permintaan Ter-akhir

Alexander The Great
adalah seorang kaisar yang agung, ketika dalam perjalanan pulang dari menaklukkan beberapa negara, dia jatuh sakit. Pada saat ini negara yang ditaklukan, harta yang dikuasai dan pedang sakti yang dimiliki, kejayaan pasukan untuknya semua ini dirasakan tidak lagi berarti baginya. Dia tahu nyawanya segera akan dicabut oleh Tuhan, dia sudah tidak bisa kembali ke negaranya.
Pada saat ini ia berpesan kepada Jenderalnya: ”Sebentar lagi saya akan meninggalkan dunia ini, saya mempunyai 3 permintaan, kalian harus mengabulkan permintaan yang saya sebut ini.” Jenderal dan para bawahannya menitikkan air mata.
“Permintaan pertama saya adalah peti mati saya harus dokter saya sendiri yang membawa pulang.” Alexander menghela nafasnya, melanjutkan perkataannya:
”Permintaan kedua saya adalah ketika peti mati saya diantar kekuburan, sepanjang jalan yang menuju ke kuburan harus meletakkan emas, permata dan harta karun yang saya miliki.” Setelah menyelimuti dirinya dengan selimut woolnya, memejamkan mata dan beristirahat sebentar, dia melanjutkan berkata:
”Permintaan terakhir saya ialah letakan kedua tangan saya diluar peti mati saya.” Semua orang yang terkumpul disana merasa heran, tetapi tidak ada yang berani bertanya. Jenderal kesayangan Alexander setelah mencium tangannya lalu bertanya:” Paduka, kami pasti akan mengabulkan semuanya sesuai dengan permintaan Paduka, tetapi dapatkah Paduka katakan maksud dibalik ketiga permintaan terakhir Paduka tersebut?”
Alexander menarik nafas panjang dan berkata :”Saya mau semua orang didunia ini mengerti saya baru mendapat 3 pelajaran yaitu
saya menyuruh dokter saya sendiri membawa pulang peti mati saya, karena saya mau orang didunia ini tahu bahwa dokter tidak bisa benar-benar menyembuhkan penyakit, menghadapi kematian dia juga tidak berdaya. Saya harap orang di dunia ini benar-benar bisa menghargai nyawanya dengan tidak melakukan hal-hal berdosa.”

Permintaan kedua yaitu supaya orang didunia ini jangan seperti saya hanya mengejar harta, saya menghabiskan seumur hidup saya hanya untuk mengejar harta benda, tetapi terkadang sia-sia hanya menghabiskan waktu saja.

Permintaan ketiga adalah supaya orang didunia tahu saya lahir dengan tangan kosong, ketika pergi juga dengan tangan kosong.” Setelah habis berkata sambil menutup matanya, Alexander menghembuskan nafas terakhirnya.

Selasa, 13 April 2010

Delapan Taktik Sederhana

Setiap individu memiliki angan-angan besar yang tergantung di sana dalam kehidupan kita. Kita hendak mencapainya, tetapi tampaknya begitu sulit dan ruang kosong dalam kehidupan kita malah tampak begitu kecil.
Luangkan sejenak dan pikirkan apa tujuan besar Anda. Mungkin bisa sesuatu yang sederhana seperti menyelesaikan masalah rumah tangga. Mungkin bagaikan hendak menggapai langit seperti memulai karir baru atau bisnis baru. Atau mungkin sesuatu yang benar-benar gila, seperti pindah ke Norwegia.
Apa pun itu, tetapkan tujuan tersebut dalam pikiran saat Anda membaca delapan taktik di bawah ini. Tanyakan diri Anda bagaimana Anda benar-benar bisa menerapkan masing-masing taktik ke arah tujuan Anda. Pada akhirnya, Anda mungkin hanya menemukan bahwa Anda telah membuat rencana untuk mengubah nasib Anda ke arah yang lebih baik.
1. Berhenti Berpikir Akan Kegagalan
Hal ini sering menjadi pertanyaan besar yang menahan kita untuk mengambil lompatan besar dalam hidup. Kita seringkali memandang tujuan adalah sesuatu yang akan membutuhkan banyak upaya, energi, dan waktu, dan kita tidak dapat membayangkan rasa sakit dan kekecewaan apabila akhirnya tidak berhasil.
Untuk itu, saya mengatakan siapa yang peduli jika tidak berhasil? Jika ini adalah mimpi Anda, proses menuju ke sana seharusnya menjadi hal menyenangkan bagi Anda. Bahkan apabila tujuan yang diraih bukanlah yang Anda impikan, perjalanan ke sana akan terasa menyenangkan.
Saya ingin menjadi penulis fiksi. Selama 15 tahun, belum satu pun fiksi saya yang terbit. Namun saya terus menulis. Mengapa? Karena saya sangat menikmatinya, terlepas dari apakah saya berhasil atau gagal. Saya bahkan tidak pernah berpikir tentang kegagalan. Itu tidak masalah. Saya menulis hal yang saya sukai dan terus mengirimkan tulisan saya, pada poin tertentu saya sudah berhasil sampai ke tahap ini.
2. Pastikan Tujuan Anda Tidak Berlebihan
Tujuan seperti menggandakan empat kali lipat gaji Anda dalam kurun waktu enam bulan akan menjadi bumerang dan tidak akan memotivasi Anda. Tak peduli seberapa baik Anda, hal tersebut tidak mungkin terjadi.
Satu cara baik untuk memastikan tujuan bisa diraih adalah dengan bertanya pada diri sendiri berapa banyak keberhasilan tujuan yang bergantung sepenuhnya pada Anda. Semakin Anda menggantungkan keberhasilan Anda pada diri Anda sepenuhnya dan bukan pada tindakan orang lain, semakin besar kemungkinan Anda akan menemukan keberhasilan.
3. Lakukan Hal Ringan Setiap Hari
Setiap berlalunya hari, Anda harus mengambil beberapa tindakan ke arah tujuan Anda. Berjalan kaki untuk menjaga kesehatan. Bacalah buku untuk menambah pengetahuan Anda. Tulislah 1000 kata per hari (sebagai yang disarankan penulis terkenal Stephen King). Lakukan sesuatu untuk mengembangkan keahlian Anda atau untuk mempelajari lebih lanjut tentang suatu bidang yang sesuai dengan fokus tujuan Anda. Ambillah langkah tambahan yang secara langsung menuju ke sasaran.
Keuntungan besar melakukan hal ini adalah bahwa hal itu membuat tujuan Anda selalu segar dalam pikiran Anda, sementara perlahan-lahan mengurangi kesulitan yang ada. Anda selalu bergerak ke arah yang benar, semakin mendekati sasaran, dan selalu menjaganya dalam pikiran.
4. Carilah Pelaksana
Pelaksana adalah seseorang yang dapat menawarkan solusi netral berkenaan dengan tujuan dan pendekatan Anda untuk mencapainya. Seorang pelaksana dapat memberi Anda lebih dari sekedar pembinaan, seperti mendorong Anda melalui sesuatu yang lebih spesifik, atau lebih sebagai peran pembimbing dengan menawarkan umpan balik berkenaan dengan tujuan Anda dan rencana Anda ke arah tujuan.
Bagaimana Anda bisa menemukan seorang pelaksana? Mencari orang-orang sukses di bidang yang Anda minati, serta orang-orang yang memiliki pengetahuan dalam bidang yang sedang Anda geluti. Tempat untuk memulai mungkin termasuk dokter, jaringan sosial Anda, atau lingkungan kerja Anda.
5. Cari Dukungan Positif
Memiliki orang-orang yang bisa mendiskusikan kemajuan dengan Anda dan yang akan mendukung Anda dengan cara positif adalah unsur yang sangat penting apabila tujuan yang hendak Anda raih besar. Dukungan positif akan memacu rasa percaya diri Anda dan membantu pemulihan diri Anda setelah berjuang mencapai titik tertentu.
Ingat, teman yang baik dan berharga adalah seseorang yang membuat Anda merasa lebih baik dan membuat Anda merasa siap untuk menaklukkan hal-hal sulit dalam hidup.
6. Kurangi Rutinitas Anda
Ketika kita memiliki rutinitas harian atau mingguan yang sangat padat, sering kali mustahil untuk dapat menemukan waktu senggang melakukan hal-hal yang kita impikan. Umumnya kita merasakan rutinintas adalah hal yang biasa saja sepanjang kita bisa menangani segala kejadian dalam keseharian.
Apabila Anda ingin mencari ruang bagi tujuan itu, kurangilah rutinitas Anda. Mulailah lakukan beberapa hal sebelum pergi bekerja, bukan setelah bekerja. Hapuslah satu atau dua aktivitas yang Anda rasa masih bisa ditunda. Biasakan istirahat siang. Kurangi waktu mengerjakan hal-hal sampingan.
Mengurangi rutinitas membuat banyak hal dalam hidup Anda terasa baru, dan itu adalah waktu yang tepat untuk mulai fokus bekerja menuju tujuan besar dalam hidup Anda.
7. Berbagi Tujuan Secara Luas
Jadikan orang-orang dalam hidup Anda sebagai motivator dengan mengatakan kepada mereka tentang tujuan Anda. Ketika Anda berbagi tujuan dengan orang-orang penting dalam hidup Anda, mereka menjadi sumber motivasi untuk bangkit dan melakukan sesuatu.
Pada satu tingkat, secara pribadi Anda termotivasi hanya karena Anda tidak ingin menunjukkan kegagalan pada orang-orang di sekitar Anda. Pada tingkat lain, seringkali mereka akan benar-benar memotivasi Anda.
8. Kenali Motivasi Anda
Mengapa Anda berusaha mencapai tujuan ini? Jika tujuan itu hanya untuk diri Anda sendiri, lebih baik lupakan saja. Akan jauh lebih berharga apabila Anda menentukan pilihan-pihan sulit tersebut karena Anda ingin tujuan tersebut bermanfaat bagi orang lain.
Mempelajari sesuatu yang baru karena hal itu memuaskan Anda adalah hal yang lebih baik ditunda. Mempelajari sesuatu yang baru karena membawa nilai kepada orang lain jauh lebih mendesak.
Usahakan motivasi tetap terpusat dan utama. Gunakan pengingat visual sebagai motivator Anda. Misalnya jika Anda mencoba untuk diet, pasanglah foto figur ideal Anda di depan pintu kulkas Anda. Sumber-sumber eksternal akan memotivasi Anda untuk membuat pilihan-pilihan kecil yang membangun fondasi kesuksesan. - Trent Hamm

Senin, 05 April 2010

Warisan

30 tahun yang lalu, suatu malam di Washington DC, Amerika Serikat, seorang istri pedagang telah kehilangan dompetnya disebuah rumah sakit karena kurang berhati-hati. Pedagang tersebut sangat gelisah, dan segera kembali ke rumah sakit malam itu juga, untuk mencari dompetnya yang hilang. Di dalam dompetnya bukan hanya terdapat USD. 100.000 saja, tetapi masih ada lagi sebuah dokumen yang sangat rahasia tentang informasi pasar. Ketika pedagang itu tiiba dirumah sakit itu, sekilas pandang ia langsung melihat, di lorong rumah sakit yang dingin dan sepi itu ada seorang gadis kecil berbadan kurus sedang meringkuk kedinginan sambil menyandarkan diri ditembok, ia sedang memeluk erat dompet didadanya, dompet itu adalah dompet istri si pedagang yang hilang itu.

Gadis kecil itu bernama Hiada, ia sedang menemani ibunya yang sakit keras dan berobat dirumah sakit ini. Kedua ibu dan anak saling bergantung hidup dalam kemiskinan, segala benda yang masih ada harganya telah mereka jual, dan uang tersebut hanya dapat mencukupi biaya pengobatan satu malam saja. Jika tidak ada uang, besok pagi mereka harus rela diusir keluar dari rumah sakit.

Malam itu, Hiada dalam keadaan tak berdaya sedang mondar mandir di lorong rumah sakit, ia berpikir untuk memohon perlindungan dari Tuhan agar dapat menjumpai seseorang baik hati yang dapat menolong ibunya. Mendadak ada seorang wanita turun dari tangga ketika ia sedang melewati lorong itu, dompet yang diapit ketiaknya jatuh dilantai, mungkin lengannya masih mengapit barang lainnya, sehingga wanita itu sama sekali tidak merasakan dompetnya telah jatuh. Saat itu hanya ada Hiada seorang diri di lorong itu. Ia lalu berjalan memungut dompet itu, dan bergegas mengejar keluar pintu. Tapi wanita itu telah masuk ke dalam sebuah mobil dan pergi begitu saja.

Hiada kembali ke kamar pasien, ketika ia membuka dompet itu, kedua ibu dan anak sangat terkejut oleh tumpukan uang yang ada didalam dompet. Pada saat itu, di dalam hati mereka berkecamuk, jika uang tersebut digunakan mungkin penyakit ibunya bisa disembuhkan. Akan tetapi ibunya menyuruh Hiada mengembalikan dompet itu ke lorong tersebut, menunggu orang yang kehilangan dompet itu kembali untuk mengambilnya.

Meskipun setelahnya pedagang itu telah berusaha sekuat tenaganya untuk membantu Hiada, namun ibu Hiada akhirnya harus meninggalkan anaknya sebatang kara. Akhirnya si pedagang itu mengadopsi anak gadis yang sebatang kara ini. Kedua ibu dan anak ini bukan saja telah menyelamatkan kerugian uang sebesar USD 100.000 miliknya, namun yang terpenting adalah dokumen rahasia tentang informasi pasar yang seharusnya telah hilang tetapi bisa diperolehnya kembali, yang pada akhirnya berhasil menghantarkan si pedagang itu menjadi semakin kaya, dan tak lama kemudian menjadi seorang konglomerat.

Hiada yang telah diadopsi oleh pedagang tersebut, usai lulus universitas, ia segera membantu konglomerat tersebut dalam urusan perusahaannya. Walaupun konglomerat tersebut tidak pernah mengangkat dia dengan jabatan yang pasti dalam perusahaan itu, tapi selama bertahun-tahun melatih diri, kecerdasan dan pengalaman dari si konglomerat tanpa disadari telah mempengaruhinya, membuatnya menjadi seorang yang mapan dan memenuhi syarat sebagai pedagang.

Hingga hari tua si konglomerat tersebut, banyak sekali pemikirannya yang terlebih dahulu harus mendapat persetujuan dari Hiada. Sampai pada ajal si konglomerat tersebut, telah meninggalkan sepucuk surat wasiat yang berbunyi : “Sebelum saya mengenal Hiada dan ibunya, saya sudah sangat kaya. Akan tetapi ketika saya berdiri di depan ibu dan anak yang miskin dan sakit, yang telah menemukan uang dalam jumlah besar namun tidak dikantonginya sendiri, saya baru menyadari bahwa merekalah orang yang paling kaya, karena mereka dengan teguh menjaga budi pekerti dan moral yang tertinggi, dan hal ini kebetulan merupakan kekurangan pada diri saya sebagai seorang pedagang. Kekayaan saya boleh dikatakan hampir semuanya saya dapatkan dari tipu muslihat dan persaingan secara tidak sehat baik itu dengan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Merekalah yang telah membuat saya sadar akan modal yang paling besar dalam kehidupan ini, yakni perbuatan yang baik. Saya mengadopsi Hiada, bukan karena saya ingin balas budi, juga bukan karena kasihan, akan tetapi saya telah mengundang dia untuk memberikan saya contoh bagaimana menjadi manusia yang sesungguhnya.

Selama ada dia disamping saya, didalam dunia bisnis, saya akan selalu mengingat, mana yang layak saya lakukan, dan mana yang tidak seharusnya saya lakukan. Hal ini adalah faktor penyebab utama yang telah membawa bisnis saya mencapai kejayaan di kemudian hari, dan saya akhirnya menjadi konglomerat. Setelah saya mati, seluruh aset kekayaan saya yang mencapai triliunan ini semuanya saya wariskan kepada Hiada sebagai pewaris tunggal. Ini bukan pemberian hadiah, akan tetapi adalah agar perusahaan saya ini dapat berkembang lebih besar dan jaya di masa yang akan datang. Saya sangat yakin, putra saya yang cerdas pasti akan dapat memahami pemikiran ayahnya ini.”

Ketika putra si konglomerat yang berada di luar negeri kembali, setelah membaca surat wasiat ayahnya dengan seksama, dengan tanpa keraguan sedikitpun ia segera menanda tangani surat persetujuan ahli waris : “Saya menyetujui Hiada sebagai pewaris tunggal dari seluruh kekayaan dari ayahku. Saya hanya memohon agar Hiada bersedia menjadi istri saya.”
Setelah Hiada melihat tanda tangan dari putra si konglomerat, ia tercenung sejenak, lalu mengambil pena juga dan menandatangani :”Saya terima semua harta yang ditinggalkan oleh pendahulu saya termasuk putranya.” Hui

Rabu, 31 Maret 2010

Tidak Mengkritik, Menyalahkan Dan Mengeluh

Eugene OKelly awalnya adalah presiden merangkap CEO dari perusahaan akuntan terkenal dunia. Bulan Mei 2005, ia menderita penyakit lumpuh pada pipi kanan (cheeks paralysis), saat pergi periksa ke rumah sakit, dokter mendiagnosanya sebagai tumor otak tingkat akhir, usianya tinggal 3 hingga 6 bulan.

Meskipun berada di tengah bayangan redup kematian, Kelly tidaklah menung-gu kematian dengan duduk tepekur dengan sedih, sebaliknya dengan aktif melakukan pencatatan 100 hari lebih pasca diagnosa sampai dengan kematiannya, telah menyelesaikan buku berjudul “Mengejar Sinar Mentari”. Dalam buku tesebut dipenuhi dengan gelora kehidupan dan terjual laris di seluruh dunia. Membaca buku itu, membuat saya sering kali merenung.

Apabila Anda hanya bisa menikmati 100 hari lebih, bagaimana Anda melewatinya? Pekerjaan apakah yang hendak Anda manfaatkan untuk hari-hari terakhir? Terhadap orang terkasih, akankah mengatakan perkataan yang biasanya tidak berpeluang mengatakannya?

Terinspirasi oleh buku tersebut, saya menelpon adik perempuan saya, memuji ke-lebihannya yang tidak suka mendendam. Tidak mendendam, betul-betul bukan hal yang mudah, terhadap orang-orang tertentu saya sendiri kadangkala masih bisa merasa sakit hati.

Saya pernah membaca sebuah berita tentang Sri Paus Yohanes ke 23. Beliau pernah mengingatkan diri sendiri di dalam catatan hariannya, harus menghindari mengkomplain dan menyalahkan orang lain. Dari situ bisa terlihat beliau hendak menjadi seorang yang berlapang dada dan tidak suka melihat kekurangan orang lain, juga dibutuhkan koreksi diri yang terus menerus dan kesadaran.

Itulah sebabnya, di dalam Golden Rule (aturan emas) Carnagie tentang hubungan interpersonal, nomor satu ialah: “Tidak mengkritik, tidak menyalahkan, tidak mengeluh.”

Coba bayangkan, apabila ke dalam sebuah botol yang sudah terisi penuh dengan kerikil, tak peduli bagaimana seringnya Anda menuangkan air ke dalamnya, pasti botol itu hanya mampu memuat sedikit air saja, hanya apabila Anda mengosongkan botol tersebut, baru bisa menuangkan air ke dalamnya.

Hubungan interpersonal juga memiliki logika yang sama, apabila terhadap orang lain Anda dipenuhi dengan kritikan, teguran dan keluhan, maka antara dia dan Anda tak akan mampu “teraliri” niat baik dan kehangatan, sangat sulit menegakkan komunikasi yang baik dan interaktif.

Oleh karena itu, Carnegie menorehkan “3 tidak” ini sebagai rule nomor 1 dari Golden Rule, sesungguhnya memiliki makna pengertian yang sangat mendalam.

Pada dasarnya, “Tidak mengritik, tidak menyalahkan orang, tidak mengeluh” justru adalah semacam “perombakan batin” yang mengubah kita dari sikap yang sebelumnya negatif, runcing tajam, suka mengritik, berubah menjadi proaktif dan positif. Kemudian, tanpa diduga Anda akan menemukan, ketika Anda sudah berubah, seiring dengan itu hubungan Anda dengan orang lain juga akan berubah.

Teringat sewaktu saya baru saja datang ke Amerika untuk mengikuti workshop Carnegie, sudah berusia 40 tahun lebih, telah mengumpulkan sedikit pengalaman hidup, demi nama besarnya menempuh ribuan km, tak dinyana pelajaran pertama adalah “Tidak mengkritik, tidak menyalahkan orang, tidak mengeluh”, reaksi pertama saya adalah: “Hanya ini saja?! Bukankah terlalu sederhana?” Untuk sesaat, betul-betul merasa agak kecewa.

Pelajaran waktu itu harus ditempuh selama 14 minggu, sesudah 14 minggu, saya sekonyong-konyong menemukan, telah terjadi perubahan gaib pada diri sendiri, “3 tidak” yang digarisbawahi oleh Carnegie, dilihat sekilas nampak sangat mudah, akan tetapi prinsip termudah kadangkala adalah yang termujarab.

Sewaktu di AS saya berkenalan dengan seorang asisten khusus dari presiden direktur sebuah perusahaan besar, wajahnya cantik, namun pergaulannya tidak mulus, sering kali cekcok dengan teman sejawat, dia sendiri juga merasa tidak enak di hati, maka itu suasana hatinya sangat gundah.

Suatu hari, presdir perusahaan berkata kepadanya, “Idealnya Anda cari cara untuk menyelesaikan persoalan interpersonal, jika semua kepala bagian setiap departemen masih saja tidak mampu bekerja sama dengan Anda, maka sayapun tak kuasa melindungi Anda lagi.”

Karena itu, wanita tersebut lantas menerima training Carnegie dan mempelajari “3 tidak”. Kemudian, saya menjumpai presdir tersebut, ia memberitahu saya, “Sesudah beberapa minggu, saya seolah tidak berani mempercayai mata saya, saya melihat dengan mata kepala sendiri perubahan pada diri wanita tersebut.”

Karena mempertahankan prinsip 3 tidak, dia tidak lagi sebagai landak yang perlu dihindari oleh orang-orang, hubungan interpersonalnya telah memperoleh perubahan sangat baik.

Setiap orang bisa saja memiliki duri tajam yang tidak saja melukai orang lain, pada akhirnya ia juga bisa melukai diri sendiri. Bagaimana dari berduri-tajam berubah menjadi batu yang bulat mulus, yaitu harus menjalankan tidak mengkritik, tidak menyalahkan orang, tidak mengeluh.

Prinsipnya sedikitpun tak sulit dipahami. Ketika Anda mengritik dan menyalahkan orang lain, justru seperti menempuh sebuah marabahaya, sangat mungkin melukai kehormatan orang tersebut.

Meskipun kritikan dan teguran Anda bermaksud baik, tapi begitu martabat pihak lain terusik, meski ia tahu dirinya keliru, bisa saja mati-matian membela diri, itulah sebabnya kritik dan teguran serta keluhan, kadangkala hanyalah semacam pelampiasan emosi, yang tak mampu menyelesaikan masalah, malah membuat jarak interpersonal semakin menjauh.

Meskipun hubungan yang paling akrab pun, mungkin saja karena kritik dan teguran serta keluhan lantas menjadi renggang.

Sewaktu kecil, saya sering mangkal di depan gereja menonton misa. Ada seorang pastor bule warganegara Kanada acap kali mengingatkan jemaatnya, hal yang paling mengandung daya perusakan terhadap hubungan keluarga ialah kritik. Banyak orang sebagai suami, atau istri, setiap hari mengomel, senantiasa menunjukkan kekurangan dan kejelekan pihak lain, alhasil perkawinan mereka menjadi hancur.

Kala itu, kami merasakan yang dikhotbahkan sang pastor tidak terlalu masuk akal, akan tetapi, sesudah melalui perjalanan hidup selama ini, menyaksikan banyak perkawinan yang semestinya bisa harmonis toh akhirnya berantakan, mau tak mau mengakui bahwa sang pastor telah melihat bahwa kritikan, teguran dan keluhan, betul-betul adalah pisau tajam bagi kelangsungan hubungan akrab.

Marilah kita simak kisah murid Carnegie, pasutri Li Limei dan Qiu Jiquan.

Limei dan Jiquan yang telah lama menikah, tiba-tiba perkawinannya mengalami gelombang surut. Jiquan yang mengajar selain sibuk di kantor, juga setiap urusan selalu mendahulukan teman-temannya pada posisi utama. Sudah berjanji hendak piknik sekeluarga, namun begitu temannya menelpon mengajak main majong (red.: sejenis permainan judi khas Tiongkok), Jiquan dengan segera mendampingi temannya bermain majong.

Sebetulnya ia juga tidak suka main, hanya saja tidak ingin mengecewakan mereka. Juga pernah suatu kali, karena teman ada urusan hendak ke luar negeri selama 2 minggu, Jiquan dengan suka rela setiap hari tepat waktu memberi makan anjingnya, namun mendampingi keluarga makan di luar pun malah tak rela.

Limei merasa dirinya dicampakkan, wajar saja kalau mengajukan protes. Karena cara penyampaian yang tanpa tedeng aling-aling, Jiquan juga tak mau kalah membalas beberapa patah kata. Kedua orang itu larut dalam saling melempar kata-kata tajam bak pedang. Akhirnya lagi-lagi perang dingin selama beberapa hari.

Akhirnya Limei memberanikan diri, mengikuti workshop Carnegie di Tai Dung, Taiwan, dan ia berkesimpulan:

Daripada harus mengubah suami, mendingan mengubah dahulu sikapnya terhadap sang suami. Ketika Jiquan sekali lagi pulang larut malam, Limei membatalkan sikapnya yang pada awalnya hendak siap perang, diubahnya dengan proaktif menyajikan secangkir kopi kepada suami, Jiquan merasa terkejut, pasangan itu mulai berdialog dengan hati tenang dan nada menyejukkan.

Oleh karena Limei tidak lagi dipenuhi dengan keluhan, hubungan pernikahan tersebut mengalami kemajuan, kemudian Jiquan mengikuti workshop Carnegie, menjadi adik seperguruan dari istri dan putrinya, ia memutuskan mengubah sikap acuhnya selama bertahun-tahun terhadap keluarganya, mengharapkan mereka menjadi manusia paling berbahagia di seluruh dunia.

Sekarang, Limei dan Ji-quan mengelola penginapan di Tai Dung. Pepohonan dan perdu di taman semuanya dikerjakan Jiquan. Di saat ada tamu berkunjung, penyajian teh ataupun kopi juga dilayani olehnya, total bagaikan seorang lelaki baik-baik yang lagi kasmaran. Segala perubahan ini, semuanya bermuara dari “3 tidak”nya.

Marilah kita menggunakan “3 tidak” pada berbagai hubungan interpersonal, maka Anda akan menemukan, efeknya begitu menakjubkan.

Belakangan ini, para politisi sedang gemar “Bicara ceplas-ceplos”, saling menyerang dengan perkataan yang menusuk tajam, sama sekali tidak ada dialog, hanya saling menyemprotkan air liur.

Saya percaya, jikalau para politisi bisa menyadari makna sesungguhnya dari “tidak mengkritik, tidak menyalahkan orang, tidak mengeluh”, mengurangi konfrontasi yang negatif itu, masyarakat kita pasti bisa berubah harmonis dan jauh lebih indah.

Kembali ke buku “Mengejar Sinar Mentari”, diban-dingkan dengan Eugene O Kelly, kita sungguh-sungguh jauh lebih beruntung, namun jangan dilupakan, kehidupan itu ada batasnya, apabila kita menganggap setiap hari sebagai hari terakhir dari kehidupan kita, maka akan menemukan, memboroskan waktu untuk kritik, celaan dan keluhan, adalah hal yang sangat tidak bernilai. Disadur dari Kalkulasi Kehidupan