Selasa, 22 Februari 2011

Jiwa anak tercermin dari lukisan

Sebelum bubar sekolah, saya memesan kepada murid-murid saya membersihkan meja dan memungut sampah yang ada didalam ruangan kelas. Ketika anak-anak sibuk mengumpulkan buku-buku, pensil dan peralatan sekolahnya dimasukkan kedalam tas, menunggu lonceng pulang berbunyi.

Saya melihat didekat tempat duduk Nana ada selembar tissue, saya lalu memperingati dia, “Nana , tolong buang tissue yang ada didekat kakimu.”

“Bukan saya yang membuang tissue itu!” Nana menjawab dengan ketus.

Saya memandang kepadanya dan berkata “Ehm, walaupun bukan engkau yang membuang, engkau dapat berbuat amal membuangnya!”

Mendengar kata “amal” setiap anak kecuali Nana berebutan membuang tissue itu.

Setelah lonceng berbunyi semua anak-anak meninggalkan ruang kelas, hanya Nana yang duduk di ruang kelas menunggu ibunya, “Kenapa tadi ibu guru menyuruh kamu memungut tissue yang ada dilantai engkau tidak mau melakukannya?” Saya sekali lagi dengan penasaran bertanya kepadanya.

“Saya tidak ingin memungut!” dengan ketus dia menjawab, mendengar kata-katanya yang ketus saya merasa tidak enak.

Nana adalah seorang murid yang tahun lalu tidak naik kelas, ibunya sangat heran kenapa anak yang begitu pintar setiap hari menangis tidak mau pergi ke sekolah, sifatnya membuat guru-guru juga tidak menaruh simpati kepadanya, sehingga sangat memusingkan ibunya.

Pertama kali dia masuk kedalam kelas saya, melihat sifat yang ketus itu saya selalu berkata kepada diri sendiri, “Tidak apa-apa, pada suatu hari saya pasti bisa merubahnya.”

Setelah dua semester berlalu, dengan sekuat tenaga dan kesabaran saya membantunya, tetapi Nana masih tidak berubah, dia tidak serius belajar, hubungan dengan teman-teman sekelasnya juga sangat jelek, ibunya mengeluh dia selalu ribut dengan adiknya dan selalu melawan bapaknya.

Teman-teman kelasnya juga sangat tidak puas dengan perbuatannya, pada suatu hari beberapa teman kelas mengeroyoknya.

Nana sambil menangis berkata, “Semua orang tidak suka kepada saya, tidak mau bermain dengan saya, saya tidak mau sekolah lagi, sekolah adalah neraka, setiap muridnya adalah hantu….”

Saya dengan heran bertanya, “Ibu guru? Apakah ibu guru juga hantu?”

Tanpa berpura-pura dia mengganguk kepala mengiyakan.

Jawaban dari Nana membuat saya menghela nafas,”Anak malang sungguh kasihan! Yang dia lihat hanya kesalahan orang lain, hanya kejelekkan dari orang lain, dia tidak tahu kesalahan yang paling besar adalah dirinya sendiri”

Medengar perkataannya membuat saya sangat kecewa, saya merasa metode pengajaran saya yang selalu menerapkan kebaikan tidak selamanya bisa diterima oleh setiap murid.

“Jika ingin melihat dunia yang berada di mata anak, terlebih dahulu kita harus berlutut, posisi kita harus sama tinggi dengan anak ini memandang dunia ini.”

Perkataan ini menyadarkan saya, apakah selama ini saya sudah benar-benar sabar, benar-benar memperhatikannya, benar-benar sudah berusaha, benar-benar dengan cinta kasih membimbingnya?.

Mulai sekarang saya akan berusaha dengan keras memberi lebih banyak perhatian dan kasih sayang dan berusaha memahami jiwanya, setiap anak mempunyai kelebihan dan kekurangan, hanya dengan kesabaran, toleran, selalu memperhatikannya, mengajarkan kepadanya kekurangannya dan memperbaiki kesalahannya, jangan pelit memberi kata pujian jika ia berbuat dengan baik, membimbing bakat yang dimiliki, dan membuat teman-teman sekelas yang lain mengetahui bahwa hari ini guru sudah memujinya.

Perlahan-lahan nama Nana sudah terdapat di buku kelakuan baik, saya sengaja membaca namanya didepan kelas untuk berbagi dengan teman-teman dikelasnya, saya menyuruh mereka mencatat kelakuan baik yang dilakukan teman-teman sekelas mereka, supaya bisa membimbing mereka mengetahui setiap orang mempunyai kelebihan dan kebaikan hati.

Selain itu saya secara rahasia mengumpulkan beberapa murid menyuruh mereka selama jam istirahat secara bergilir bermain dengan Nana, untuk mencairkan sifat ketusnya terhadap orang lain.

Setelah beberapa waktu berlalu, senyum Nana makin hari makin bertambah, perkataan yang diucapkan juga makin hari makin lembut.

Suatu hari saya bertanya kepada Nana, “Sekarang, bagaimana perasaanmu datang ke sekolah?” Nana berkata, “Akan saya lukiskan kepada ibu guru.”

Bakat melukis Nana sangat besar, diatas kertas putih lukisan yang dilukis dibagi atas dua bagian, dibagian pertama dilukis puluhan hantu kecil dengan gigi taring berada di dalam neraka, disamping itu ada sebuah wajan besar yang berisi minyak panas, di bagian kedua dilukiskan surga, setiap anak dengan sayapnya seperti malaikat, ibu guru juga berada disini.

Didalam lukisan ini saya bisa melihat perubahan dari Nana, membuat saya merasa bersemangat kembali, metode pengajaran yang sabar dan toleran sungguh membuahkan hasil, membuat dia tumbuh semakin dewasa dan membaik.

sebatang Pensil

BELAJAR HIKMAH DARI SEBATANG PENSIL

“Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil ada penghapusnya” (Pepatah Jepang)

Kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah penuh hikmah dari sebatang pensil.

Dikisahkan, sebuah pensil akan segera dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh pembuatnya, pensil itu dinasihati mengenai tugas yang akan diembannya. Maka, beberapa wejangan pun diberikan kepada si pensil. Inilah yang dikatakan oleh si pembuat pensil tersebut kepada pensilnya.

“Wahai pensil, tugasmu yang pertama dan utama adalah membantu orang sehingga memudahkan mereka menulis. Kamu boleh melakukan fungsi apa pun, tapi tugas utamamu adalah sebagai alat penulis. Kalau kamu gagal berfungsi sebagai alat tulis. Macet, rusak, maka tugas utamamu gagal.”

“Kedua, agar dirimu bisa berfungsi dengan sempurna, kamu akan mengalami proses penajaman. Memang meyakitkan, tapi itulah yang akan membuat dirimu menjadi berguna dan berfungsi optimal”.

“Ketiga, yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi manusia”.

“Keempat, kamu tidak bisa berfungsi sendirian. Agar bisa berguna dan bermanfaat, maka kamu harus membiarkan dirimu bekerja sama dengan manusia yang menggunakanmu”.

“Kelima. Di saat-saat terakhir, apa yang telah engkau hasilkan itulah yang menunjukkan seberapa hebatnya dirimu yang sesungguhnya. Bukanlah pensil utuh yang dianggap berhasil, melainkan pensil-pensil yang telah membantu menghasilkan karya terbaik, yang berfungsi hingga potongan terpendek. Itulah yang sebenarnya paling mencapai tujuanmu dibuat”.

Sejak itulah, pensil-pensil itu pun masuk ke dalam kotaknya, dibungkus, dikemas, dan dijual ke pasar bagi para manusia yang membutuhkannya.

Pembaca, pensil-pensil ini pun mengingatkan kita mengenai tujuan dan misi kita berada di dunia ini. Saya pun percaya bahwa bukanlah tanpa sebab kita berada dan diciptakan ataupun dilahirkan di dunia ini. Yang jelas, ada sebuah purpose dalam diri kita yang perlu untuk digenapi dan diselesaikan.

Sama seperti pensil itu, begitu pulalah diri kita yang berada di dunia ini. Apa pun profesinya, saya yakin kesadaran kita mengenai tujuan dan panggilan hidup kita, akan membuat hidup kita menjadi semakin bermakna.

Hilang arah

Tidak mengherankan jika Victor Frankl yang memopulerkan Logoterapi, yang dia sendiri pernah disiksa oleh Nazi, mengemukakan “tujuan hidup yang jelas, membuat orang punya harapan serta tidak mengakhiri hidupnya”. Itulah sebabnya, tak mengherankan jika dikatakan bahwa salah satu penyebab terbesar dari angka bunuh diri adalah kehilangan arah ataupun tujuan hidup. Maka, dari filosofi pensil di atas kita belajar mengenai lima hal penting dalam kehidupan.

Pertama, hidup harus punya tujuan yang pasti. Apapun kerja, profesi atau pun peran yang kita mainkan di dunia ini, kita harus berdaya guna. Jika tidak, maka sia-sialah tujuan diri kita diciptakan. Celakanya, kita lahir tanpa sebuah instruksi ataupun buku manual yang menjelaskan untuk apakah kita hadir di dunia ini. Pencarian akan tujuan dan panggilan kita, menjadi tema penting selama kita hidup di dunia.

Yang jelas, kehidupan kita dimaknakan untuk menjadi berguna dan bermanfaat serta positif bagi orang-orang di sekitar kita, minimal untuk orang-orang terdekat. Jika tidak demikian, maka kita useless. Tidak ada gunanya. Sama seperti sebatang pensil yang tidak bisa dipakai menulis, maka ia tidaklah berguna sama sekali.

Kedua, akan terjadi proses penajaman sehingga kita bisa berguna optimal, oleh karena itulah, sering terjadi kesulitan, hambatan ataupun tantangan. Semuanya berguna dan bermanfaat sehingga kita selalu belajar darinya untuk
menjadi lebih baik. Ingat kembali soal Lee Iacocca, salah satu eksekutif yang justru menjadi besar dan terkenal, setelah dia didepak keluar dari mobil Ford. Pengalaman itu justru menjadi pemacu semangat baginya untuk berhasil di Chrysler.

Ingat pula, Donald Trump yang sempat diguncang masalah finansial dan nyaris bangkrut. Namun, kebangkrutannya itulah yang justru menjadi pelajaran dan motivasi baginya untuk sukses lebih langgeng. Kadang penajaman itu ‘sakit’. Namun, itulah yang justru akan memberikan kesempatan kita mengeluarkan yang terbaik.

Ketiga, bagian internal diri kitalah yang akan berperan. Saya sering menyaksikan banyak artis, ataupun bintang film yang terkenal, justru yang hebat bukanlah karena mereka paling cantik ataupun paling tampan. Tetapi, kemampuan dalam diri mereka, filosofi serta semangat merekalah yang membuat mereka menjadi luar biasa. Demikian pula pada diri kita. Pada akhirnya, apa yang ada di dalam diri kita seperti karakter, kemampuan, bakat, motivasi, semangat, pola pikir itulah yang akan lebih berdampak daripada tampilan luar diri kita.

Keempat, pensil pun mengajarkan agar bisa berfungsi sempurna kita harus belajar bekerja sama dengan orang lain. Bayangkanlah seorang aktor atau aktris yang tidak mau diatur sutradaranya. Bayangkan seorang anak buah yang tidak mau diatur atasannya. Ataupun seorang service provider yang tidak mau diatur oleh pelanggannya. Mereka semua tidak akan berfungsi sempurna. Agar berhasil, kadang kita harus belajar dari pensil untuk ‘tunduk’ dan membiarkan diri kita berubah menjadi alat yang sempurna dengan belajar dan mendengar dari ahlinya. Itulah sebabnya, kemampuan untuk belajar bekerja sama dengan orang lain, mendengarkan orang lain, belajar dari ‘guru’ yang lebih tahu adalah sesuatu yang membuat kita menjadi lebih baik.

Terakhir, pensil pun mengajarkan kita meninggalkan warisan yang berharga melalui karya-karya yang kita tinggalkan. Tugas kita bukan kembali dalam kondisi utuh dan sempurna, melainkan menjadikan diri kita berarti dan berharga. Itulah filosofi ‘memberi dan melayani’ yang diajarkan oleh Tuhan, Allah kita. Itulah sebabnya Ibu Teresa dari Calcutta ataupun Albert
Schweitzer yang melayani di Afrika lebih mengumpamakan diri mereka seperti sebatang pensil yang dipakai oleh Tuhan.

Yang penting, hingga pada akhir kehidupan kita ada karya ataupun hasil berharga yang mampu kita tinggalkan. Tentu saja tidak perlu yang heboh dan spektakuler.

oleh : Anthony Dio Martin

Rabu, 13 Oktober 2010

Serigala

Kisah ini adalah pengalaman yang paling tak terlupakan yang terjadi lebih dari 40 tahun yang lalu. Suatu pagi di pertengahan Oktober, tim kami yang terdiri dari sopir, tiga teknisi, dan empat penjaga bersenjata, masuk ke truk untuk melanjutkan eksplorasi tambang. Semua orang dari kami memiliki senapan serbu dan pistol. Sebelum kami mulai, seorang kenalan lama saya dari suku Naxi ingin ikut naik dengan kami.

Karena salju semakin tebal di jalan, truk kami akhirnya tidak mampu melanjutkan perjalanan karena roda slip. Kami tidak bisa bergerak maju atau mundur. Kami semua turun dari truk dan berusaha untuk mencari cabang pohon untuk mengganjal di belakang roda.

Pada saat yang sama, kami melihat sekawanan serigala salju dari 200 meter perlahan bergerak mendekati kami. Kami bertanya-tanya apa yang bisa kami lakukan dan merasa sangat was-was.

Tiba-tiba temanku dari suku Naxi itu berteriak "Kembali ke truk, cepat! Ini adalah segerombolan serigala lapar! "

Kami merangkak ke dalam truk. Kemudian kami melihat sekawanan serigala kurus yang kelihatan lapar dan garang. Ketika Wu mencoba untuk meraih senapan guna menembak serigala, temanku merebut senapan itu dan berteriak, "Hai! Apa yang kamu lakukan?" Jangan bermain api dengan serigala!. Hal ini sia-sia karena mereka akan merayap di bawah truk ketika mereka mendengar suara tembakan. Jika itu terjadi, kita adalah daging di talenan. Kawanan serigala akan mengunyah ban kita dan mengumpulkan serigala lebih banyak untuk bertarung dengan kita sampai akhir. "

Saya bertanya, "Apa yang harus kita lakukan?"

Orang Naxi mengatakan "Jangan terlalu cemas, badai salju ini mengurung mereka dan mereka sangat kelaparan. Apakah kita memiliki makanan di truk? "

"Ya", jawab saya.

"OK, lemparkan makanan ke mereka," kata pria Naxi.

Kami semua berusaha melemparkan simpanan makanan kami: daging beku, ham, dan dendeng rusa dari truk. Gerombolan serigala melompat menangkap daging dan memakannya dengan cepat. Mereka kemudian duduk berbaris dan memandang pintu truk. Orang Naxi memerintahkan , "lempar makanan lagi!" Kami melemparkan lebih dari 100 kilogram daging dari truk pertama kali, kedua kami melemparkan sekitar 50 kilo lagi. Saya hampir menangis. Gerombolan serigala melompat ke daging lagi, tapi makan dengan kecepatan yang lebih lambat, kami bisa melihat perut mereka telah terisi. Dalam waktu singkat, mereka telah memakan semuanya dan melihat pintu truk kami lagi.

"Ada makanan lebih banyak lagi?" Orang Naxi menambahkan, "Jangan menyimpan apapun berikan semuanya yang ada dalam truk. Kita selalu bisa membeli lebih banyak ketika kita pergi ke kota. "

Saya berpikir, "Apakah kami mendapatkan kesempatan untuk kembali?" Kami Melemparkan ke mereka apapun termasuk dendeng rusa favorit kami dan biskuit. Mereka makan semua daging, tetapi mereka hanya mengendus biskuit.

Kami menyadari bahwa perut serigala itu cukup penuh, kini sorot mata mereka lembut, dan mereka tidak lagi duduk berbaris. Salah satu dari mereka yang paling besar, berjalan mengelilingi truk dua kali seolah-olah melihat kondisi roda, dan kemudian berlari ke arah hutan diikuti serigala-serigala lainnya.

Kami stres berat dan mulai mendorong truk lagi. Tidak ada yang bisa membantu dan kami mungkin harus bermalam di sana. Saat itu delapan serigala besar keluar dari hutan dan kembali mendekati kami.

Anehnya, setiap serigala membawa ranting di mulutnya. Kami tidak tahu apa yang ingin mereka lakukan, jadi kami merangkak ke dalam truk lagi untuk mengamankan diri.

Dalam sekejap, serigala meletakkan cabang-cabang pohon itu di belakang roda belakang. Saya berteriak gembira, "serigala datang untuk membantu kita."

Kawanan serigala mendengar saya berteriak dan menatapku. Mereka tampak ramah sekali. Segera delapan serigala merangkak di bawah truk dan mulai menggali. Lalu saya melihat salju yang keluar dari kedua sisi truk, beberapa salju meluncur ke lereng gunung dan beberapa menumpuk di pinggir jalan. Setelah beberapa saat, delapan serigala keluar dari bawah truk dan berlari ke depan. Dengan kepala mereka satu arah dan ekor ke bagian depan truk kemudian berdiri di satu baris, mereka mendorong salju dengan mulut mereka. Kemudian saling berhadapan, empat di setiap sisi truk, mereka menendang salju keras dengan kaki belakang-perlahan-lahan permukaan jalan muncul.

Air mata memenuhi mata ini, saya berkata kepada Wang dengan semangat: "Kawanan serigala membantu kita menyingkirkan salju. Cepat hidupkan truk. " Mesin berfungsi dan truk mulai beranjak. Orang Naxi memeluk kami.

Ketika truk bergerak maju, kawanan serigala melompat keluar-dan-selanjutnya mengambil cabang-cabang dari tanah. Setiap kali truk melewati dan mengulangi apa yang mereka lakukan sebelumnya. Ini telah diulang puluhan kali sampai kita melaju lebih dari satu mil dan mencapai puncak gunung. salju tebal, serigala meletakkan cabang

Setelah kami berada di puncak gunung, serigala tidak lagi memegang cabang kayu di mulut tetapi duduk dalam satu baris lagi. Tapi kali ini, salah satu serigala di depan yang lainnya.

Orang Naxi memberitahu kami bahwa serigala itu adalah pemimpinnya dan itu mungkin idenya untuk membantu kami. Kami sangat gembira dan bertepuk tangan berterima kasih. Namun, para serigala hanya memandang kami dan mengikuti pemimpin perlahan berjalan ke atas gunung dan menghilang ke hutan pinus.

Senin, 30 Agustus 2010

Barang berharga yang langka

walaupun emas adalah barang yang sangat berharga,

tetapi bila ditelan orang bisa membuat orang meninggal,

sedangkan serbuk emas jika masuk ke mata orang juga bisa membuat menjadi buta,


sekalipun Permata adalah barang yang sangat berharga,

tetapi tidak dapat menyembuhkan penyakit,

sekalipun Permata sangat mahal jika ditelan tidak akan mengusir rasa lapar.


banyak barang berharga yang telah diberikan Tuhan kepada Manusia,

yang dapat digunakan untuk membuat dunia ini Damai dan Tenang



Manusia tidak menghargai dan tidak mengejar barang berharga yang langka ini . akan tetapi beranggapan mengejar emas dan permata sebagai hal yang paling penting dan berharga dalam hidup ini.

Bagaikan mengejar sesuatu yang mustahil, kelihatannya manusia sudah kehilangan hati nuraninya.



“barang berharga yang langka” adalah kepribadian manusia itu sendiri.

Hanya memiliki nilai moral yang tinggi, pikiran yang murni, semangat hidup yang sehat semua hal ini adalah merupakan barang berharga tak ternilai yang patut dikejar.



perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari Roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.

Sabtu, 28 Agustus 2010

Kebahagiaan adalah Kebaikan

Ayah berikan padamu tiga patah kalimat untuk menyertai hidupmu.”

Ayah : Kebahagiaan adalah semacam kebaikan.

Anakku, haruslah senantiasa berbahagia. Ini merupakan kemewahan terakhir bagi kita kaum miskin, jangan punya kebiasaan membuang kebahagiaan begitu saja.

Engkau harus senantiasa berbahagia, baik pada setiap pagi maupun senja hari. Engkau harus belajar mendengarkan bahasa dari segala benda dan mahluk yang berada di dunia ini. Engkau harus mencoba berkomunikasi dengan sungai, gunung dan bumi yang berada di dekatmu.

Di setiap desa kau lewati, engkau harus meninggalkan suara tawamu sebagai kenangan, dengan demikian bertahun-tahun kemudian ketika mereka berbicara tentang dirimu, mereka juga akan teringat bahwa ketika itu pernah ada seorang pemuda atau gadis yang riang gembira melewati desa ini dengan kebahagiaan penuh.

Kebahagiaan adalah semacam kebaikan. Engkau harus senantiasa membawanya di sampingmu, memperlakukannya bagai sebuah sapu tangan dari sang kekasih. Tak peduli berapa pun banyaknya barang bawaanmu.

Walaupun sepatumu telah rusak, kakimu tergores hingga berdarah, engkau juga harus tetap memegang kebahagiaan itu dengan sangat erat, jangan sekali-kali meninggalkannya walau sedetik pun.

Anakku, kebahagiaan adalah semacam kebaikan, karena ia bisa ditularkkan. Engkau harus menularkan kebahagiaanmu kepada setiap orang yang berada di dekatmu, tak peduli dia adalah petani yang sedang kelelahan atau turis yang sedang sakit. Tak peduli dia adalah seorang anak yang tidak memakai sepatu atau seorang ibu yang sedang murung memikirkan berasnya. Engkau harus menularkan kebahagiaanmu itu kepada mereka semua, jadikan mereka semua bunga segar dengan wajah senyum merekah.

Anakku, disetiap desa yang engkau lalui, para penduduk desa akan memperlakukan dirimu bagaikan sanak keluarganya sendiri, mereka akan memberimu air yang manis, mengisi tasmu penuh dengan bekal makanan.

Berikan kebahagiaanmu itu kepada mereka, ingatlah, kebahagiaan adalah kebaikan, dia bisa membuat dirimu hidup dalam hati orang-orang itu selama bertahun-tahun.

Jangan berhenti terlalu lama demi sekuntum bunga

Anakku,dalam perjalanan yang engkau tempuh, engkau akan menjumpai banyak sekali bunga-bunga segar yang belum pernah engkau jumpai dipinggir jalan. Bunga-bunga itu berjaga di pinggir sungai, bernyanyi dan menari tertiup oleh angin lalu.

Anakku, jangan mengabaikan mereka, jangan pernah membiarkan mata kita mengabaikan dan melewatkan suatu keindahan. Engkau harus menikmati gerak tubuh dan suara nyanyiannya, engkau harus merasakan keindahan hidup ini melalui kehadiran mereka. Tidak peduli seberapa jauhnya perjalananmu, tidak peduli betapa sulit dan bahayanya jalanan itu, engaku juga harus berkomunikasi dengan bunga-bunga itu, walaupun hanya menggunakan waktu-waktu saat sedang minum air atau mencuci muka.

Jangan mengabaikan bunga-bunga segar yang tumbuh penuh di pinggir jalan itu. Tetapi ayah beritahukan kepadamu, ketika engkau sedang terbenam dalam keharuman bunga, jangan lupa bergegaslah untuk melanjutkan perjalananmu, jangan berhenti terlalu lama demi sekuntum bunga.

Anakku, hanyalah seorang yang kebetulan lewat di sana. Tujuanmu yang sesungguhnya adalah mengarah di depan sana, perjalananmu masih lama dan panjang. Sepasang matamu masih tetap bersemangat, engkau adalah milik suatu tempat yang nan jauh di sana, tempatmu bukanlah di sini.


Memberikan hadiah kepada orang yang pernah membantu kita



Anakku, Asalkan dalam tubuhmu mengalir darah panas yang menggelora, asalkan engkau mengacungkan obor yang berada di tangan mengusir binatang-binatang buas, cepat atau lambat engkau pasti tiba ditempat yang ingin engkau tuju. Tempat itu adalah suatu tempat yang jauh, itu adalah sebuah desa kebahagiaan.

Ketika engkau berkemas-kemas akan pulang, ayah harus memberitahu dirimu, jangan lupa menyediakan hadiah bagi orang-orang yang pernah membantu dirimu.

Engkau harus ingat dalam perjalananmu, kau pernah minum air yang disuguhkan oleh orang lain.
Engkau pernah makan makanan yang diantarkan oleh orang lain.
Engkau pernah mendengarkan suara nyanyian dari seorang gadis atapun alunan seruling dari seorang pemuda.
Engkau pernah menanyakan jalan pada seorang anak kecil. Engkau pernah melewatkan malam yang sangat pekat dan panjang di dalam rumah kecil milik seorang pemburu.

Anakku, harus mengingat mereka, mengingat raut wajah dan suara mereka. Sebelum engkau kembali, engkau harus menyiapkan hadiah bagi mereka.

Engkau bungkus dengan teliti dan baik beberapa potong kain sutera, beberapa biji batu yang indah. Engkau harus menyediakan bunga segar untuk gadis itu, engkau harus menyiapkan tembakau bagi orang yang tua, engkau mengingat anaik-anak kecil yang jenaka itu, hadiah untuk mereka adalah yang paling mudah tetapi juga yang paling sulit didapat.

Hadiah-hadiah berikut ini sudah lebih dari cukup bagi mereka. Ceritakan pemandangan yang pernah engkau lihat dalam perjalanan, ceritakan cerita yang pernah engkau dengar, juga sampaikan ke mereka pikiran, perasaan dan pengalaman, ceritakan semuanya kepada mereka di pinggir api unggun.

Memberitahukan kepada mereka yang kekurangan air, tempat dimana mereka dapat memperoleh air itu.
Memberitahukan kepada mereka yang sakit, tumbuhan apa yang bisa menyembuhkan penyakit.
Beritahukanlah pengalaman perjalananmu ini kepada mereka, beritahukanlah kepada mereka jalan terjal yang berada di depan sana.

Semuanya ini merupakan hadiah yang terbaik.


Anakku, jangan lupa menyediakan hadiah bagi mereka yang pernah membantu kita, hanya dengan demikian, perjalanan jauhmu baru bisa dikatakan tidaklah sia-sia.

Jumat, 20 Agustus 2010

Pakaian ber-merk

Setiap orang dapat saja memakai pakaian bermerek terkenal, namun tidak banyak yang dapat mengenakannya hingga timbul sense of reality. Karena yang penting bukannya apa yang dipakai, melainkan sesuai atau tidak dipakai.

Ada orang yang mengandalkan benda-benda di luar untuk membangun percaya diri, sehingga mereka mengenakan pakaian dan perhiasan yang mahal-mahal, mengira dapat menimbulkan kesan keanggunan martabat, namun biasanya orang yang paling kita hormati sesungguhnya tidak ada hubungan dengan merek pakaian mereka, melainkan karena moral, karakter dan sikap mereka dalam berprilaku.

Tentunya pakaian dan perhiasan yang indah tentu saja akan menimbulkan dampak berlipat ganda, bila kombinasi pakaian yang sesuai dan harmonis menimbulkan rasa percaya diri, ditambah sikap yang anggun dan karakter yang baik, saya rasa akan sangat excellen.

Pada hakekatnya, asalkan mampu mengendalikan diri, permasalahan dalam kehidupan yang beragam ini dapat diselesaikan. bersyukur dan berserahlah.


Namun, dalam menempuh perjalanan hidup ini, orang yang benar-benar disegani, baik dia mengenakan pakaian bermerek ataupun tidak, dukungan yang dia peroleh pastilah melampaui orang yang sekedar dipenuhi pakaian merek terkenal.
karena Karakter, sikap dan Moral seseorang akan ter-ukir manis di setiap hati orang yang mengalaminya.

Selasa, 13 Juli 2010

Sejarah NOBEL

Sebuah damai di hati dari seorang penemu, ilmu alam, ahli kimia Swedia Alfred Nobel menemukan dinamit. Namun, penemuannya yang dia berpikir akan mengakhiri perang terlihat oleh banyak orang sebagai sebuah produk yang sangat mematikan. Pada 1888, ketika saudara Alfred Ludvig meninggal, sebuah surat kabar Perancis keliru memuat obituari untuk Alfred yang menyebutnya pedagang "kematian."
Dalam sejarah tidak ada yang ingin tertulis di batu nisan dengan kata-kata yang mengerikan itu, Nobel yang sangat terkejut akan pemberiataan di koran dan sanak saudaranya, menginspirasinya memberi penghargaan yang sekarang terkenal Hadiah Nobel.

Siapa Alfred Nobel? Mengapa Nobel mengalami kesulitan saat memulai pemberian hadiah?


Alfred Nobel dilahirkan pada 21 Oktober 1833 di Stockholm, Pada 1842, saat Alfred berusia sembilan tahun, ibunya (Andrietta Ahlsell) dan saudaranya (Robert dan Ludvig) pindah ke St Petersburg, Rusia untuk bergabung dengan ayah Alfred (Immanuel), yang telah pindah ke sana lima tahun sebelumnya. Tahun berikutnya, adik Alfred, Emil, lahir.
Immanuel Nobel, arsitek, pengembang, dan investor membuka ‘machine shop’ di St.Petersburg, menjadi sangat sukses setelah kontrak kerja dengan pemerintah Rusia membangun senjata pertahanan.
Karena keberhasilan ayahnya, Alfred belajar di rumah sampai usia 16. Namun, banyak yang menganggap Alfred Nobel orang berpendidikan. Selain menjadi seorang kimiawan terlatih, Alfred adalah seorang pembaca setia sastra dan fasih berbahasa Inggris, Jerman, Perancis, Swedia, dan Rusia.
Alfred juga menghabiskan dua tahun perjalanan. Dia menghabiskan banyak waktu untuk bekerja di sebuah laboratorium di Paris, tetapi juga melakukan perjalanan ke Amerika Serikat. Setelah kembali, Alfred bekerja di pabrik ayahnya. Dia bekerja di sana sampai ayahnya bangkrut pada tahun 1859.
Alfred segera mulai bereksperimen dengan nitrogliserin, menciptakan ledakan pertama di awal musim panas 1862. Hanya dalam satu tahun (Oktober 1863), Alfred menerima paten Swedia untuk detonator perkusi - suatu "Nobel ringan."
Setelah pindah kembali ke Swedia untuk membantu ayahnya dengan sebuah penemuan, Alfred mendirikan pabrik kecil di Helenborg dekat Stockholm untuk memproduksi nitrogliserin. Sayangnya, nitrogliserin merupakan bahan yang sangat sulit dan berbahaya untuk ditangani. Pada tahun 1864, pabrik Alfred meledak - membunuh beberapa orang, termasuk adik Alfred, Emil. ledakan itu tidak menghambat Alfred, dan hanya dalam waktu satu bulan, ia mengatur pabrik lain untuk memproduksi nitrogliserin.

Pada tahun 1867, Alfred menciptakan dinamit baru dan aman, ledakannya dapat dikendalikan.

Meskipun Alfred menjadi terkenal karena menemukan dinamit, banyak orang tidak tahu Alfred Nobel secara dekat. Dia adalah orang pendiam yang tidak suka menunjukkan ketenarannya. Temannya sangat sedikit dan tidak pernah menikah.
Meskipun ia mengakui kekuatan destruktif dinamit, Alfred percaya itu pertanda damai. Alfred menyampaikan Bertha von Suttner, pembela perdamaian dunia, pabrik saya dapat mengakhiri perang lebih cepat dari kongres Anda. * Suatu hari ketika dua pasukan tentara dapat memusnahkan satu sama lain dalam satu detik, diharapkan semuanya akan mundur dari perang dan menarik pasukan mereka. *
Sayangnya, Alfred tidak melihat perdamaian di masanya. Alfred Nobel, ahli kimia dan penemu dinamit, meninggal pada 10 Desember 1896 setelah menderita pendarahan otak.
Setelah Alfred Nobel dikremasi, keluarga membuka surat wasiatnya. Semua orang terkejut.

Wasiat
Alfred Nobel telah menulis beberapa wasiat selama hidupnya, tetapi yang terakhir tanggal 27 November 1895 - kurang dari satu tahun sebelum ia meninggal.
Akan diberikan hadiah Nobel senilai sekitar 94 persen dari kekayaannya untuk pembiayaan lima hadiah (fisika, kimia, fisiologi atau kedokteran, sastra, dan perdamaian) kepada "orang-orang yang, telah memberikan manfaat besar kepada umat manusia."

* As quoted in W. Odelberg (ed.), Nobel: The Man & His Prizes (New York: American Elsevier Publishing Company, Inc., 1972) 12. * Seperti dikutip dalam W. Odelberg (ed.), Nobel: The Man & Hadiah Nya (New York: American Elsevier Publishing Company, Inc, 1972) 12.
Bibliography Bibliografi
Axelrod, Alan and Charles Phillips. What Everyone Should Know About the 20th Century . Axelrod, Alan dan Charles Phillips. Apa yang Harus Anda Ketahui Tentang Semua orang abad ke-20. Holbrook, Massachusetts: Adams Media Corporation, 1998. Holbrook, Massachusetts: Adams Media Corporation, 1998.
Odelberg, W. (ed.). Nobel: The Man & His Prizes . Odelberg, W. (ed.). Nobel: The Man & Hadiah-Nya. New York: American Elsevier Publishing Company, Inc., 1972. New York: American Elsevier Publishing Company, Inc, 1972.
Official Website of the Nobel Foundation. Situs Resmi Yayasan Nobel. Retrieved April 20, 2000 from the World Wide Web: http://www.nobel.se Diperoleh April 20, 2000 dari World Wide Web: http://www.nobel.se